A.
KEPEPIMPINAN
BERDASARKAN TEORI PERILAKU
1.
Menurut
Teori X dan Y
Pemimpin
yang didalam proses kepemimpinanya banyak dipengaruhi oeh persepsi dan asumsi
tentang organisasi, bawahan, dan lingkungan eksternal. Asumsi dan persepsi ini
akan menjadi dasar bagi pemimpin untuk memunculkan reaksi dan perilaku dalam
proses kepemimpinannya. Bagaimana dia beradaptasi, bagaimana dia bertindak, dan
bagaimana dia berperilaku untuk mengambil keputusan semua dipengaruh oleh
asumsi dan persepsinya tentang dunia secara keseluruhan. ( Rost, 1993, Daft,
1999 ).
Efek dari teori
X dan Y adalah munculnya apa yang dinamakan fenomena ramalan yang terpenuhi
dengan sendirinya ( self fullying
prophecy )
Yaitu pemimpin yang membuat pikiran,
beramsusi sebelumnya, berprasanngka atau merumuskan keyakinan yang
menjadi kenyataan karena pemimpin meramalkannya seakan-akan itu
benar.sebenarnya, ramalan tersebut
tidaklah menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Namun ramalan yang
berupa asumsi tersebu mempengaruhi perilaku pemimpin yang kemudian mempengaruhi
bawahannya sehingga ramalan prasangka,
dan asumsi pemimpin tentang bawahannya justru muncul dan diperketat. Ada empat
langkah dasar dalam proses ini, yakni;
a.
Pemimpin
membuat asumsi, prediksi, dan merumuskan keyakinan tentang bawahannya yang
sebenarnya tidak tepat dan bias, misalnya, pemimpin meramalkan bahwa meramalkan
bahwa bawahannya adalah orang yang malas, tidak kreatif, dan kurang berambisi
untuk maju.
b.
Pemimpin
kemudian menganggap bahwa ramalan, asumsi, atau keyakinannya terhadap itu
benar. Misalnya, didepan bawahannya tersebut pemimpin justru banyak memberikan
perintah.
c.
Dengan demikian pemimpin bertindak dengan tidak
memberikan kesempatan untuk maju, tidak memberi tugas yang menantang, dan lebih
banyak memberikan perintah, akibatnya bawahanya menjadi pasif, tidak
bersemangat, dan kurang kreatif.
d.
Pemimpin
kemudian mengamati perilaku bawahanya
yang pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif ini dan kemudian menyimpulkan
bahwa ramalannya tepat dan benar adanya.
Keempat
proses diatas menjelaskan mengapa asumsi dan keyakinan dasar pemimpin bawahanya mepengaruhi pemimin
itu sendiri dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku bawahannya. Mc Gregor
mengaskan bahwa ada asumsi-asumsi yang diyakini oleh pemimpin tentang manusia
yang bersifat dipolar, asumsi ini pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan
tindakannya. Kedua jenis asumsi ini dinamakan sebagai teori X dan teori Y yang masing-masing teori ini menegaskan dua
perbedaan keyakinan pemimpin didalam melihat dan menilai manusia ( bawahanya ).
a.
Teori
X
Asumsi
teori X dapat diuraikan atau diringkas sebagai berikut;
1.
Pemimpin
memandang bawahannya sebagai orang yang berpendapat bahwa pekerjaan adalah
sesuatu yang tidak menyenangkan dan berusaha dihindari.
2.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang lebih suka diperintah dan sering kali
harus dipaksa untuk melakukan pekerjaan dengn hukuman dan hadiah ( akibat
asumsi pertama diatas ).
3.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang tidak menginginkan serta menghindari
tangung jawab.
4.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang harus dikendalikan dengan ketat dan
menganggap bawahan tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya didalam
organisasi tanpa bantuan pemimpin.
Pemimpin
yang memegang teori X ini cenderung
menganggap bawahan hanya sebagai hanya sebagai alat prduksi semata, dimotivasi
leh hukuman dan hadiah, tidak memiliki keinginan untuk maju, dan menghindari
tangung jawab. Akibatnya pemimpin harus mengawasi mereka dengan keras, dan
menggunakan ancaman hukuman untuk menakuti bawahan agar mau bekerja. Pemimpin
juga tidak memiliki kepercayaan terhadap anak buahnya sehingga pemimpin lebih
banyak memberikan perintah, bertindak otoriter, mengiginkan kepatuhan yang
tinggi dari bawahan yang menganggap bawahan tidak akan bisa diberikan tanggung
jawab.
b.
Teori
Y
Asumsi
teori Y secara ringkas akan disebutkan satu persatu dibawah ini;
1.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang punya pendapat bahwa pekerjaan adalah
sesuatu yang menyenangkan dan alamiah seperti beriman.
2.
Pemimipin
memandang bawahan sebagai orang yang mempunyai pengendalian diri dan pengawasan
diri jika mereka terlibat dalam pekerjaannya.
3.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang memiliki ambisi, ingin maju, dan
melaksanakannya secara baik.
4.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang dimotivasi terutama leh kebutttuhan yang
lebih tinggi seperti kebutuhan untuk berprestasi, mendapat pengakuan, dan
mengtualisasikan dirinya secara maksimal.
5.
Pemimpin
memandang bawahan sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah dalam
organisasi secara mandiri, bertanggung jawab dan kreaktif sehingga tidak
membutuhkan pengawasan yang ketat.
Pemimpin
yang memegang teori Y akan beranggapan bahwa bawahan merupakan individu yang
bisa berkembang secara baik, mempunyai pengendalian diri, dan bertanggungjawab
atas pekerjaannya. Akibatnya, pemimpin lebih banyak memberikan dorongan,
kesempatan untuk maju bagi bawahannya, tanggung jawab melalui pendelegasian
tugas. Pemimpin mempunyai potensi dan kemampuan
yang besar jika dibimbing dengan baik. Gaya kepemimpinnya lebih
demokratis, tidak otoriter.
2.
Menurut
Teori Kontinum
Penelitian
berikutnya dari Tannembaum dan shmidt mengindikasikan bahwa perilaku pemimpin
dapat muncul dalam sebuah kontinum yang merekflesikan jumlah yang berbeda dari partisifasi bawahan. Pusat
kontinum berada pada antara boss-centredt, jarak antara boss-centred. Menurut tergantung pada keadaan situasi organisasi,
dan pemimpin menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan situasi
organisasi.
Jika waktu membebani pemimpin dan
bawahan terlalu lama untuk belajar mengambil keputusan, maka pemimpin akan
cenderung menggunakan gaya autokratis. Sebaliknya jika bawahan mampu mengambil
keputusan secara cepat, maka pemimpin cenderung menggunakan gaya partisipatif.
Selain itu semakin besar perbedaan kemampuan yang dimilki antara bawahandan
pimpinan, maka pemimpin akan semakinbanyak menggunakan gaya autokratis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar