Jumat, 31 Oktober 2014

kepemimpinan


A.    KEPEPIMPINAN BERDASARKAN TEORI PERILAKU

1.     Menurut Teori X dan Y
                      Pemimpin yang didalam proses kepemimpinanya banyak dipengaruhi oeh persepsi dan asumsi tentang organisasi, bawahan, dan lingkungan eksternal. Asumsi dan persepsi ini akan menjadi dasar bagi pemimpin untuk memunculkan reaksi dan perilaku dalam proses kepemimpinannya. Bagaimana dia beradaptasi, bagaimana dia bertindak, dan bagaimana dia berperilaku untuk mengambil keputusan semua dipengaruh oleh asumsi dan persepsinya tentang dunia secara keseluruhan. ( Rost, 1993, Daft, 1999 ).
                      Efek dari teori X dan Y adalah munculnya apa yang dinamakan fenomena ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya ( self fullying prophecy )
Yaitu pemimpin yang membuat pikiran,  beramsusi sebelumnya, berprasanngka atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena pemimpin meramalkannya seakan-akan itu benar.sebenarnya, ramalan tersebut  tidaklah menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Namun ramalan yang berupa asumsi tersebu mempengaruhi perilaku pemimpin yang kemudian mempengaruhi bawahannya  sehingga ramalan prasangka, dan asumsi pemimpin tentang bawahannya justru muncul dan diperketat. Ada empat langkah dasar dalam proses ini, yakni;

a.     Pemimpin membuat asumsi, prediksi, dan merumuskan keyakinan tentang bawahannya yang sebenarnya tidak tepat dan bias, misalnya, pemimpin meramalkan bahwa meramalkan bahwa bawahannya adalah orang yang malas, tidak kreatif, dan kurang berambisi untuk maju.
b.     Pemimpin kemudian menganggap bahwa ramalan, asumsi, atau keyakinannya terhadap itu benar. Misalnya, didepan bawahannya tersebut pemimpin justru banyak memberikan perintah.
c.      Dengan  demikian pemimpin bertindak dengan tidak memberikan kesempatan untuk maju, tidak memberi tugas yang menantang, dan lebih banyak memberikan perintah, akibatnya bawahanya menjadi pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif.
d.     Pemimpin kemudian mengamati  perilaku bawahanya yang pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif ini dan kemudian menyimpulkan bahwa ramalannya tepat dan benar adanya.
                      Keempat proses diatas menjelaskan mengapa asumsi dan keyakinan  dasar pemimpin bawahanya mepengaruhi pemimin itu sendiri dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku bawahannya. Mc Gregor mengaskan bahwa ada asumsi-asumsi yang diyakini oleh pemimpin tentang manusia yang bersifat dipolar, asumsi ini pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan tindakannya. Kedua jenis asumsi ini dinamakan sebagai teori X dan teori Y  yang masing-masing teori ini menegaskan dua perbedaan keyakinan pemimpin didalam melihat dan menilai manusia ( bawahanya ).

a.     Teori X
                      Asumsi teori X dapat diuraikan atau diringkas sebagai berikut;
1.     Pemimpin memandang bawahannya sebagai orang yang berpendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan berusaha dihindari.
2.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang lebih suka diperintah dan sering kali harus dipaksa untuk melakukan pekerjaan dengn hukuman dan hadiah ( akibat asumsi pertama diatas ).
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang tidak menginginkan serta menghindari tangung jawab.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang harus dikendalikan dengan ketat dan menganggap bawahan tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya didalam organisasi tanpa bantuan pemimpin.
                      Pemimpin yang memegang teori X  ini cenderung menganggap bawahan hanya sebagai hanya sebagai alat prduksi semata, dimotivasi leh hukuman dan hadiah, tidak memiliki keinginan untuk maju, dan menghindari tangung jawab. Akibatnya pemimpin harus mengawasi mereka dengan keras, dan menggunakan ancaman hukuman untuk menakuti bawahan agar mau bekerja. Pemimpin juga tidak memiliki kepercayaan terhadap anak buahnya sehingga pemimpin lebih banyak memberikan perintah, bertindak otoriter, mengiginkan kepatuhan yang tinggi dari bawahan yang menganggap bawahan tidak akan bisa diberikan tanggung jawab.
b.     Teori Y
                      Asumsi teori Y secara ringkas akan disebutkan satu persatu dibawah ini;
1.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang punya pendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang menyenangkan dan alamiah seperti beriman.
2.     Pemimipin memandang bawahan sebagai orang yang mempunyai pengendalian diri dan pengawasan diri jika mereka terlibat dalam pekerjaannya.
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang memiliki ambisi, ingin maju, dan melaksanakannya secara baik.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang dimotivasi terutama leh kebutttuhan yang lebih tinggi seperti kebutuhan untuk berprestasi, mendapat pengakuan, dan mengtualisasikan dirinya secara maksimal.
5.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah dalam organisasi secara mandiri, bertanggung jawab dan kreaktif sehingga tidak membutuhkan pengawasan yang ketat.
                     
                      Pemimpin yang memegang teori Y akan beranggapan bahwa bawahan merupakan individu yang bisa berkembang secara baik, mempunyai pengendalian diri, dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. Akibatnya, pemimpin lebih banyak memberikan dorongan, kesempatan untuk maju bagi bawahannya, tanggung jawab melalui pendelegasian tugas. Pemimpin mempunyai potensi dan kemampuan  yang besar jika dibimbing dengan baik. Gaya kepemimpinnya lebih demokratis, tidak otoriter.

2.     Menurut Teori Kontinum
                      Penelitian berikutnya dari Tannembaum dan shmidt mengindikasikan bahwa perilaku pemimpin dapat muncul dalam sebuah kontinum yang merekflesikan jumlah yang  berbeda dari partisifasi bawahan. Pusat kontinum berada pada antara boss-centredt, jarak antara boss-centred. Menurut  tergantung pada keadaan situasi organisasi, dan pemimpin menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan situasi organisasi.
Jika waktu  membebani pemimpin dan bawahan terlalu lama untuk belajar mengambil keputusan, maka pemimpin akan cenderung menggunakan gaya autokratis. Sebaliknya jika bawahan mampu mengambil keputusan secara cepat, maka pemimpin cenderung menggunakan gaya partisipatif. Selain itu semakin besar perbedaan kemampuan yang dimilki antara bawahandan pimpinan, maka pemimpin akan semakinbanyak menggunakan gaya autokratis.   
     























































Tidak ada komentar:

Posting Komentar