Jumat, 31 Oktober 2014

Hakekat filsafat administrasi negara dan kepemimpinan berdasarkan teori X, Y, Z



Hakekat  filsafat administrasi negara. pemimpin, dan kepemimpin berdasarkan teori perilaku  X, Y,Z

1.A Beberapa pengertian pokok
Jika sesorang hendak membicarakan “ filsafat Administrasi ”, ada beberapa pengertian pokok yang perlu diketahui. Kegunaan suatu definisi ialah sebagai titik tolak pembahasan. Istilah-istilah tersebut adalah:
                 Filsafat dalam bahasa yunani terdiri dari dua suku kata, yaitu philos dan shopia. Philos biasanya diistilahkan dengan bahasa gemar, senang, atau cinta. Shopia dapat diartikan kebijaksanaan atau kearifan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “ filsapat ” berarti cinta kepada kebijaksanaan. Menjadi bijaksana berarti berusaha mendalami hakekat sesuatu. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa berfilsafat berarti berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya baik mengenai fungsinya, ciri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah itu.
1.2. Administrasi
Administrasi dapat mendefinisikan sebagai keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionallitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebeelumnya ada beberapa hal yang terkandung dalam definisi diatas.
Pertama, administrasi sebagai seni adalah suatu proses yang diketahui hanya permulaannya sedang akhirnya tidak diketahui.
Kedua, administrasi mempunyai unsur-unsur tertentu, yaitu adanya dua manusia atau lebih, adanya tujuan yang hendak dicapai, adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan, adanya peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan tugas-tugas itu. Kedalam golongan peralatan dan perlengkapan termasuk pola waktu, tempat peralatan materi serta sarana lainnya.
Ketiga, bahwa administrasi sebagai proses kerjasama bukan merupakan hal yang baru karena ia telah timbul berasama-sama dengan timbulnya peradaban  manusia.
1.a. Administrasi sebagai proses
Telah di singgung dimuka bahwa proses adalah sesuatu yang permulaannya diketahui akan tetapi akhirnnya tidak diketahui. Dengan demikian administrasi adalah suatu proses melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang dimulai sejak adanya dua orang yang bersepakat untuk kerjasama untuk mencapai tujuan yang tertentu pula. bilamana prosesnya itu akan memutuskan untuk bekerja sama lagi tidak ada yang mengetahui.
1.b.Tentang unsur-unsur administrasi
Telah dikatakan  dimuka tadi bahwa adanya sesuatu, dalam hal ini administrasi adalah karena adanya unsur-unsur tertentu yang menjadikan adanya sesuatu itu. Telah dikatakan bahwa unsur-unsur ( bagian-bagian mutlak ) dari administrasi adalah:
1)    Dua orang manusia atau lebih.
2)    Tujuan.
3)    Tugas yang hendak dilaksanakan serta,
4)    Sarana dan prasana tertentu.
Mengenai unsur-unsur manusia, di perlukan lebih  dari satu orang karena seseorang tidak dapat bekerja sama dengan dirinya sendiri. Karena itu harus ada orang lain yang secara sukarela atau dengan cara lain diajak turut serta dalam proses kerja sama.
1.4. kepemimpinan ( Leadership )
Kepemimpinan merupakan  cabang dari kelompok ilmu administrasi, khususnya ilmu administrasi negara. Sedangkan ilmu administrasi adalah salah satu cabang ilmu dari ilmu-ilmu sosial, dan merupakan cabang dari ilmu filsafat.
Dalam kepemimpinan ini terdapat hubungan antara manusia, yaitu hubungan mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepatuhan-ketaatan para pengikut atau bawahan karena di pengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan pada pemimpin.
Kepemimpinan di masukkan dalam kategori  “ ilmu  terapan ” dari ilmu-ilmu sosial, sebab prinsip-prinsip, definisi, dan teori-teorinya diharapkan dapat bermanfaat bagi usaha peningkatan taraf hidup manusia. Seperti ilmu-ilmu lain, kepemimpinan sebagai cabang ilmu bertujuan untuk:
1)            Memberikan pengertian kepada pemimpin mengenai kepemimpinan secara luas,
2)            Menafsirkan dari tinggkah laku pemimpin, dan
3)            Pendekatan terhadap permasalahan sosial yang dikaitkan dengan fungsi pemimpin.
Selanjutnya, ruang lingkup atau tema kepemimpinan itu pada intinya meliputi dua permasalahan pokok, yaitu:
-                 Teori kepemimpinan, dan
-                 Teknik kepemimpinan.
Teori kepemimpinan adalah :
A)          Suatu penggenerisasian dari suatu seri fakta mengenai sifat-sifat dasar dan perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinan.
B)   Dengan menekankan latar belakang historis, dan sebab-musabab timbulnya kepemimpinan serta persyaratan untuk menjadi pemimpin;
C)  Sifat-sifat yang diperlukan oleh seorang pemimpin, tugas-tugas pokok dan fungsinya, serta etika profesi yang perlu dipakai oleh pemimpin.
Teknik kepemimpinan ialah :
(1) Kemampuan dan keterampilan teknis pemimpin dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan di tengah praktik kehidupan dan dalam organisasi tertentu, dan
(2) Melingkupi konsep-konsep pemikiranya, perilaku sehari-hari, serta peralatan yang di gunakan.
Dalam sistematika ulasan mengenai materi kepemimpinan , terlebih dahulu ditekankan masalah teori kepemimpinan. Baru kemudian didukung oleh uraian-uraian mengenai bentuk serta kepemimpinan. Hal ini ditunjukkan pada:
1)    Agar para pemimpin benar-benar menguasai teknik-teknik kepimpinan (sebagai bentuk perilaku praktis); sehingga berhasil fungsinya selaku pemimpin dan menerapakan teknik-teknik tertentu di tengah kehidupan dan organisasi.
2)    Melalui pemahaman teori-teori kepemimpinan, maka singkron dengan nilai secara norma-norma organisasi serta manajemen. Dengan demikian dapat ditingkatkan kualitas kepemimpinannya.
Tampaknya ada kecenderungan ditanah air sekarang ini untuk lebih menyukai gaya kepemimpinan yang akan datang dari luar negeri-khusunya negara eropa dan amerika serikatsedang ciri-cciri utama kepemimpinan yang diwariskan oleh nenek moyang sendiri (raja-raja,negarawan,pemimpin agama,seniman,sastrawan besar,dan tokoh pemimpin masyarakat lainya)  cenderung di abaikan atau dilupakan. Padahal syarat-syarat kepemimpinan yang diwariskan oleh para leluhur itu bila dikaji kembali dan diterapkan, pasti akan memberikan bobot moral, ajaran untuk membentuk watak dan kepribadian pemimpin, serta dapat meningkatkan kualitas teknis dan sosialnya.
Sehungan dengan uraian diatas, maka perlu dikaji kembali dan dipertahankan nilai-nilai moral yang bersumber pada pandangan hidup bangsa sendiri, untuk memunculkan pemimpin yang berwatak baik, berkepribadian, dan memiliki tanggung jawab susila yang tinggi. Disamping itu, kita dapat menyerap sifat-sifat utama dari kepemimpinan barat, antara lain ialah ciri yang demokratis, rasional, objektif, efektif, dan efisien.
Mengingat kedudukan sentral  dari pancasila sebagai filsafat negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, maka perlu kita tuliskan pokok-pokok pikiran mengenai kepemimpinan pancasila yang dikemukakan oleh Dr.Ruslangani, Abdulgani, sehingga konsep-konsep dasar dan praktik-pratik kepemimpinan indonesia, dapat dikembangkan sesuai dengan sifat-sifat institusi di indonesia juga sesuai dengan tuntutan zaman. Dibahas pula kepimpinan abnormal dan sakit secara sosial-yang egoistis, overkompensatoris,sadistis,maha serakah,kejam, meraja lela, neurotis,kruptif­- itu pasti menyebarkan penyakitnya, dan menimbulkan banyak kepedihan serta kesengsaraan dikalangan luas.
1.a. gaya kepemimpinan
gaya artinya sikap, gerak, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik yang bagus, kekuatan, kesanggupan, untuk berbuat baik.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri  yang digunakan pemimpin untuk mempengaruhi bawahan agar sasaran tercapai atau, gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapakan seseorang pemimpin.
Gaya kepemmpinan memiliki tiga pola dasar yaitu:
1.     Mementingkan pelaksanakan tugas;
2.     Mementingkan hubungan kerjasama;
3.     Mementingkan hasil  yang dicapai.

Filsuf iran saadi mengatakan ‘’ berilah kata-kata manis kepada orang lain.”  “Dengan memberikan kata-kata manis dan keramahtamahan kita bisa menuntun gajah dengan sehelai rambut.”
Creech “ tidak ada sekelompok kerja yang jelek yang ada hanya pemimpin yang jelek ”
1.b. Rumus kepemimpinan
                                L=F ( L, F, S )
                                        L= LEADERSHIP
                                        F= FUNCTION
                                        L= LEADER
                                        F= FOLLOWER
                                        S= SITUATION
1.c. Kepemimpinan bardasarkan teori perilaku
a.      Menurut Teori X dan Y        
Tabel teori X dan Y.         
Teori X
Teori Y
1
Sifat pekerjaan adalah tidak disukai oleh kebanyakan orang.
1
Pekerjaan biasanya adalah sebagai permainan apabila kondisi-kondisi menguntungkan
2
Kebanyakan orang tidak mempunyai ambisi,
Mempunyai sedikit keinginan akan tanggung jawab, dan suka diarahkan.
2
Pengendalian diri sering sangat diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi
3
Kebanyakan orang mempunyai sedikit kemampuan untuk kreaktivitas dalam memecahkan masalah-masalah organisasi.
3
Keamanan untuk kreaktivitas dalam memecahkan masalah-masalah organisasi di bagikan secara luas kepada banyak orang. 
4
Motivasi hanya terjadi pada tingkat filosofis dan keamanan.
4
Motivasi terjadi pada tingkat sosial, penghargaan dan aktualisasi diri, maupun pada tingkat filosfis
5
Kebanyakan orang harus dikendalikan secara cepat
5
Orang-orang dapat mengarahkan sendiri dan kreaktif pada pekerjaan, apabila dimotivasi secukupnya.
Pemimpin yang didalam proses kepemimpinanya banyak dipengaruhi oleh persepsi dan asumsi tentang organisasi, bawahan, dan lingkungan eksternal. Asumsi dan persepsi ini akan menjadi dasar bagi pemimpin untuk memunculkan reaksi dan perilaku dalam proses kepemimpinannya. Bagaimana dia beradaptasi, bagaimana dia bertindak, dan bagaimana dia berperilaku untuk mengambil keputusan semua dipengaruh oleh asumsi dan persepsinya tentang dunia secara keseluruhan. ( Rost, 1993, Daft, 1999)
Efek dari teori X dan Y adalah munculnya apa yang dinamakan fenomena ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya ( self fullying prophecy )
Yaitu pemimpin yang membuat pikiran,  beramsusi sebelumnya, berprasangka atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena pemimpin meramalkannya seakan-akan itu benar.sebenarnya, ramalan tersebut  tidaklah menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Namun ramalan yang berupa asumsi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang kemudian mempengaruhi bawahannya  sehingga ramalan prasangka, dan asumsi pemimpin tentang bawahannya justru muncul dan diperketat. Ada empat langkah dasar dalam proses ini, yakni;
a.      Pemimpin membuat asumsi, prediksi, dan merumuskan keyakinan tentang bawahannya yang sebenarnya tidak tepat dan bias, misalnya, pemimpin meramalkan bahwa meramalkan bahwa bawahannya adalah orang yang malas, tidak kreatif, dan kurang berambisi untuk maju.
b.     Pemimpin kemudian menganggap bahwa ramalan, asumsi, atau keyakinannya terhadap itu benar. Misalnya, didepan bawahannya tersebut pemimpin justru banyak memberikan perintah.
c.      Dengan  demikian pemimpin bertindak dengan tidak memberikan kesempatan untuk maju, tidak memberi tugas yang menantang, dan lebih banyak memberikan perintah, akibatnya bawahanya menjadi pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif.
d.     Pemimpin kemudian mengamati  perilaku bawahanya yang pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif ini dan kemudian menyimpulkan bahwa ramalannya tepat dan benar adanya.
             Keempat proses diatas menjelaskan mengapa asumsi dan keyakinan  dasar pemimpin bawahanya mepengaruhi pemimin itu sendiri dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku bawahannya. Mc Gregor mengaskan bahwa ada asumsi-asumsi yang diyakini oleh pemimpin tentang manusia yang bersifat dipolar, asumsi ini pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan tindakannya. Kedua jenis asumsi ini dinamakan sebagai teori X dan teori Y  yang masing-masing teori ini menegaskan dua perbedaan keyakinan pemimpin didalam melihat dan menilai manusia ( bawahanya ).
a.      Teori X
             Asumsi teori X dapat diuraikan atau diringkas sebagai berikut;
1.     Pemimpin memandang bawahannya sebagai orang yang berpendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan berusaha dihindari.
2.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang lebih suka diperintah dan sering kali harus dipaksa untuk melakukan pekerjaan dengan hukuman dan hadiah ( akibat asumsi pertama diatas ).
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang tidak menginginkan serta menghindari tangung jawab.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang harus dikendalikan dengan ketat dan menganggap bawahan tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya didalam organisasi tanpa bantuan pemimpin.
Pemimpin yang memegang teori X  ini cenderung menganggap bawahan hanya sebagai hanya sebagai alat prduksi semata, dimotivasi oleh hukuman dan hadiah, tidak memiliki keinginan untuk maju, dan menghindari tangung jawab. Akibatnya pemimpin harus mengawasi mereka dengan keras, dan menggunakan ancaman hukuman untuk menakuti bawahan agar mau bekerja. Pemimpin juga tidak memiliki kepercayaan terhadap anak buahnya sehingga pemimpin lebih banyak memberikan perintah, bertindak otoriter, mengiginkan kepatuhan yang tinggi dari bawahan yang menganggap bawahan tidak akan bisa diberikan tanggung jawab.
b.     Teori Y
             Asumsi teori Y secara ringkas akan disebutkan satu persatu dibawah ini;
1.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang punya pendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang menyenangkan dan alamiah seperti beriman.
2.     Pemimipin memandang bawahan sebagai orang yang mempunyai pengendalian diri dan pengawasan diri jika mereka terlibat dalam pekerjaannya.
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang memiliki ambisi, ingin maju, dan melaksanakannya secara baik.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang dimotivasi terutama oleh kebutuhan yang lebih tinggi seperti kebutuhan untuk berprestasi, mendapat pengakuan, dan mengtualisasikan dirinya secara maksimal.
5.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah dalam organisasi secara mandiri, bertanggung jawab dan kreaktif sehingga tidak membutuhkan pengawasan yang ketat.
                      Pemimpin yang memegang teori Y akan beranggapan bahwa bawahan merupakan individu yang bisa berkembang secara baik, mempunyai pengendalian diri, dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. Akibatnya, pemimpin lebih banyak memberikan dorongan, kesempatan untuk maju bagi bawahannya, tanggung jawab melalui pendelegasian tugas. Pemimpin mempunyai potensi dan kemampuan  yang besar jika dibimbing dengan baik. Gaya kepemimpinnya lebih demokratis, tidak otoriter.
C. Teori Z
             William G. Ouchi, mengemukakan bahwa : prduktifitas akan meningkat apabila melibatkan pekerja.
Ciri-ciri organisasi tipe Z:
Pola umum masa jabatan yang panjang, berulang kali tegas melakukan pemeriksaan, keseimbangan  antara pemakaian system informasi manajemen modern, perencanaan formal, manajemen berdasarkan sasaran, serta teknik kuantitatif lainnya dan penillaian pokok personal  didasarkan pengalaman, dan tidak hanya data relavan yang dengan segera.
1.Menurut Teori Kontinum
Penelitian berikutnya dari Tannembaum dan shmidt mengindikasikan bahwa perilaku pemimpin dapat muncul dalam sebuah kontinum yang merekflesikan jumlah yang  berbeda dari partisifasi bawahan. Pusat kontinum berada pada antara boss-centredt, jarak antara boss-centred. Menurut  tergantung pada keadaan situasi organisasi, dan pemimpin menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan situasi organisasi. Jika waktu  membebani pemimpin dan bawahan terlalu lama untuk belajar mengambil keputusan, maka pemimpin akan cenderung menggunakan gaya autokratis. Sebaliknya jika bawahan mampu mengambil keputusan secara cepat, maka pemimpin cenderung menggunakan gaya partisipatif. Selain itu semakin besar perbedaan kemampuan yang dimilki antara bawahan pimpinan, maka pemimpin akan semakinbanyak menggunakan gaya autokratis.  
    





















































                                             


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar