Jumat, 31 Oktober 2014

makalah politik dan strategi keamanan

Politik dan Strategi Pertahanan Keamanan Nasional
KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmanirrahim ,  puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia NYA kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah Kewarganegaraan . Makalah ini berisikan tentang informasi yang menjelaskan tentang Politik dan Strategi Keamanan Nasional.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan , oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak khususnya dosen kami Bapak SOLIHIN SH . yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini .
            Dan kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita .
Amin .





Palembang, Oktober 2011




                                                                                                                        Penyusun















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebagai suatu bangsa yang berada di dalam lingkungan dunia yang luas bersama - sama dengan bangsa-bangsa lain, maka dalam perjuangan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, tidak daptat dihindari bahwa bangsa Indonesia mempunyai kepentingan-kepentingan  yang bisa bertabrakan dengan kepentingan bangsa lain. Dalam keadaan demikian, bangsa Indonesia yang cinta damai mengutamakan penyelesaian melalui perundingan dan diplomasi. Tetapi disebabkan karena tiada satu pun kekuatan di dunia yang dapat menjamin bahwa bangsa lain tidak akan menggunakan perang sebagi cara penyelesaian, maka bangsa Indonesia harus menjalankan upaya pertahanan dan keamanan untuk membela dirinya dari berbagai bentuk ancaman perang yang bisa dilancarkan terhadapnya oleh bangsa lain.
Semua pernyataan tersebut harus dipenuhi atas dasar landasan ideal Pancasila, landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 dan doktrin-doktrin Nasional yaitu Ketahanan Nasional, Integrasi Nasional, dan wawasan Nusantara yang di dalamnya aspek Hankamnas merupakan bagian yang tidak dapatdan tidak boleh dipisahkan.
Seperti telah dijelaskan di atas, mempelajari masalah Hankamnas tidak hanya pada pelaksanaannya saja, melainkan harus juga mulai dari persiapan sampai dengan mengatasi akibatnya dan mecegahnya. Dalam persiapan ini harus disusun dan di tentukan suatu pedoman bagaimana meningkatkan Hankamnas dalam rangka Ketahanan Nasional, dengan sarana-sarana apa dan bagaimana penggunaannya  untuk dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan. Pedoman ini akan berwujud dalam apa yang dinamakan Politik dan Strategi Pertahanan Keamanan Nasional (Polstrahankamnas), yang selanjutnya akan dipaparkan dalam makalah ini.
1.2  Tujuan
Makalah ini disusun dengan tujuan agar kita lebih menyadari kenyataan dan meningkatkan upaya untuk memelihara daya tangkal yang efektif, apabila kita tidak ingin dipengaruhi oleh bayangan semu akan keamanan karena keberhasilan politik dan mencegah pertentangan dan menghindari pertikaian yang akan bisa dimanfaatkan pihak lain yang tidak bersahabat dengan Indonesia.
1.3  Manfaat
Dengan makalah ini mahasiswa diharapkan dapat mempertahankan dan mengamankan segala hasil perjuangan yang telah dicapai di bidang politik, ekonomi, sosial budaya , agama dan militer.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Politik
          Kata “Politik” secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Politeia, yang akar katanya adalah “polis” berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri yaitu negara dan “teia” berarti urusan. Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan rangkaian asas, prinsip, keadaaan, jalan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki.
            Politik secara umum menyangkut proses penentuan tujuan negara dan cara melaksanakannya. Pelaksanaan tujuan itu memerlukan kebijakan-kebijakan umum (public policies) yang menyangkut pengaturan, pembagian, atau alokasi sumber-sumber yang ada. Dengan demikian, politik membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan (policy), dan distribusi atau alokasi sumber daya.
2.2  Pengertian Strategi

Strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Karl von Clausewitz (1780-1831) berpendapat bahwa strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan. Sedangkan perang itu sendiri merupakan kelanjutan dari politik.
            Dalam pengertian umum strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau pencapaian tujuan. Dengan demikian, strategi tidak hanya menjadi monopoli para jendral atau bidang militer tetapi telah meluas ke segala bidang kehidupan.

2.3  Politik dan Strategi Pertahanan Keamanan Nasional
           
Politik dan strategi pertahanan dan keamanan merupakan bagian integral dari politik dan Strategi Nasional (Polstranas). Polstra Hankam bersifat saling mengisi saling mendukung dan saling memperkuat (Sinergi) dengan politik dan strategi bidang-bidang kehidupan lainnya dalam Polstranas.

2.4 Dasar Pemikiran Penyusunan Politik dan Strategi Nasional
           
Penyusunan politik dan strategi nasional perlu memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam sistem manajemen nasional yang berlandaskan ideologi Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional.


Penyusunan Politik dan Strategi Nasional
            Politik dan strategi nasional yang telah berlangsung selama ini disusun berdasarkan sistem kenegaraaan menurut UUD 1945. Sejak tahun 1985 telah berkembang pendapat yang mengatakan bahwa jajaran pemerintah dan lembaga-lembaga yang tersebut dalam UUD 1945 merupakan “suprastruktur politik”.        Mekanisme penyusunan politik dan strategi nasional di tingkat suprastruktur politik diatur oleh presiden/mandataris MPR. Sedangkan proses penyusunan politik dan strategi nasional di tingkat suprastruktur politk dilakukan setelah presiden menerima GBHN.           

2.5  Tujuan Polstrahankamnas
           
Polstrahankamnas disusun dengan tujuan untuk menjadi pedoman dalam usaha meningkatkan ketahanan Hankamnas dalam rangka ketahanan nasional dengan sarana material dan pembiayaan keuangan yang terbatas dapat mengamankan dan sekaligus mendorong kecepatan peningkatan ketahanan di bidang kesejahteraan nasional. Untuk itu diperlukan persyaratan-peryaratan sebagai berikut:
a.          Adanya suatu konsep politik dan strategi Hankamnas yang merupakan bagian integral dari politik dan strategi nasional yang berjangka panjang, sedang  dan pendek yang mencakup dua ospek kokoh:
·         Pembangunan kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan Hankamnas
·         Penggunaan kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan tersebut
b.      Suatu mekanisme yang tepat untuk merealisasikan konsepsi politik dan strategi tersebut
c.          Kepemimpinan Hankamnas yang mampu merealisasikan konsepsi politik dan strtegi tersebut.

2.6  Landasan Polstrahankamnas

Untuk penyusunan Polstrahankamnas diperlukan landasan berpijak agar tidak menyimpang dari cita-cita dan tujuan Bangsa dan Negara. Landasan ini dapat dibedakan menjadi empat macam yang tidak terpisahkan yaitu:
a.       Landasan idiil
Landasan idiil polstrahankamnas adalah pancasila
b.      Landasan konstitusional
Landasan konstitusional Polstrahankamnas adalah UUD 1945
c.       Landasan doktrin
Landasan  doktrin Polstrahankamnas disusun dalam dua tingkat yaitu tingkat Nasional dan Hankamnas. Landasan doktrin tingkat nasional terdiri dari:
·         Wawasan nusantara
·         Ketahanan nasional
·         Integritas nasional
d.      Landasan operasional
Pada landasan operasional dapat pula diperinci menjadi yang berhubungan  dengan politik nasional dan yang berhubungan dengan strategi nasional. Politik nasional adalah politik pembangunan nasional yang mempunyai fokus  yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan kebutuhaan setiap era yang dimasuki.
Fokus strategi nasioanal harus sama dengan politik nasional, karena strtegi nasional adalah politik nasioanal dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu strategi nasional adalah strategi pembangunan. Strategi nasional sebagai landasan operasional adalah cara pembinaan dan penggunaan sarana dan sebagainya untuk terwujudnya politik  nasional. Sarana strategi nasional adalah tujuan atau maksud yaitu apa yang hendak dicapai. Dalam hal ini dapat dibedakan adanya sasaran kedalam dan sasaran keluar.
Sasaran kedalam yaitu integrasi nasional dengan mewujudkan identitas dan integrasi nasional. Sedangkan sasaran keluar ada 3 macam:
1.      Mendukung kepentingan nasional didalam negeri (pembangunan nasional)
2.      Memperjuangkan kedudukan terhormat didalam pergaulan antar bangsa dengan titik berat pada ASEAN terkoordinasikan secara erat dan akrab serta pada forum PBB yang mantap berwibawa dan efektif
3.      Mengadakan hubungan internasional lainnya, baik yang bersiat bilateral maupun multilateral.

2.7  Hubungan Polstrahankamnas dengan Polstranas
           
Khusus mengenai hubungan Polstrahankamnas dengan politik luar negeri dapat dikemukakan sebagai berikut:
Politik Hankamnas mengandung unsur-unsur :
a)      Pernyataan cita-cita dari Bangsa dan Negara
b)      Pembinaan dan penggunaan secara totalitas potensi Hankamnas
c)      Pencapaian tujuan Hankamnas dalam rangka pencapaian tujuan nasional
Strategi Hankamnas mengandung unsur-unsur:
a)      Seni dan pengetahuan
b)      Pengembangan dan penggunaan kekuatan Ipoleksom
c)      Diperlukan baik pada waktu perang maupun pada waktu damai
d)     Penjamin tercapainya tujuan Hankamnas dalam rangka pencapaian tujuan nasional.
            Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa politik strategi hankamnas maupun politik luar negeri mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mencapai tujuan nasional.

2.8  Faktor-Faktor Polstrahankamas
           
            Faktor-faktor Polstrahankamnas yang dimaksud adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dan perhitungkan. Diantara faktor-faktor tersebut adalah:
  • Doktrin
  • Wawasan nasional
  • Sistem Hankamrata
  • Geografi
  • Manusia
  • Masyarakat
  • Material
  • Ekonomi
  • ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Manajemen
  • Pengaruh luar negeri
  • Kepemimpinan

2.8  Bahaya yang Mengancam Hankamnas
           
            Bahaya yang mengancam Hankamnas dapat terwujud dalam bentuk-bentuk perang sebagai berikut:
  • Perang umum
  • Perang terbatas
  • Perang Revolusioner atau perang pembebasan Nasional
  • Cara kekerasan lainnya
  • Penilaian








BAB III
PENUTUP

3.1              Kesimpulan
·                      Persoalan Hankam merupakan salah satu bidang kehidupan nasional, oleh karena itu seperti terlihat dalam uraian-uraian bahwa polstrahankamas tidak dapat terlepas dari Polstranas, bahkan Polstranas merupakan dasar dari Polstrahankamnas.
·                  Polstrahankamnas menentukan kebijaksanaan,  arah, dasar dan saran-saran dalam pembinaan atau pembangunan dan penggunaan kekuatan Hankamnas yang meliputi seluruh potensi nasional yang Ipoleksom.
·    Dengan terlaksananya Polstrahankamnas maka akan dapat terjamin ketahanan di bidang Hankam dalam batas-batas kemampuan.
·          Polstrahankamnas akan dapat memberi dasar pokok pada sistem Hankamrata.















DAFTAR PUSTAKA

.      Sayidiman Suryohadiprojo, Pokok-pokok Pikiran Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, Lemhanas, Jakarta 1975.
.      Departemen Pertahanan Keamanan, Realisasi Pembangunan Pertahanan Keamanan Nasional dan Kekaryaan ABRI, cetakan k-2, Jakarta, 1971.
      •  


kepemimpinan menurut saya



Malang, 17 Oktber 2014

Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah suatu aktifitas atau kegiatan yang sifatnya menuntun dan membimbing orang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Sebelum mengetahui lebih dalam mengenai kepemimpinan alangkah lebih baik kita pahami dulu perbedaan pemimpin dan pimpinan.
A.    Pemimpin
Pemimpin adalah orang yang mampu memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan.
B.     Pimpinan
Orang yang menduduki jabatan dalam suatu organisasi atau birokrasi

          Adapun sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalalah, bertanggung jawab,bijaksana, cerdas,cakap,berani, integritas, sopan, ulet, mempunyai pandangan kedepan, berwibawa,adil,rendah hati dll..
Seorang pemimpin memiliki 5 komitmen antara lain;
1.     Komitmen pada organisasi
2.     Komitmen pada diri sendiri
3.     Komitmen pada pelanggan
4.     Komitmen pada orang lain
5.     Komitmen pada tugas

Untuk menjadi pemimpin adalah hak seorang manusia, kita merupakan keturanan adam dan hawa yang notabene adalah pemimpin, berarti kita semua adalah keturunan  pemimpin.
Pemimpin memiliki arti sempit dan arti luas, ssb;
Pemimpin dalam arti sempit, kita semua berkesempatan menjadi pemimpin didalam kehidupan sehari-hari,  Contoh dalam kehidupan keluarga, dalam keluarga yang menjadi pemimpin adalah ayah, ketika ayah tidak ada dirumah yang menjadi pemimpin adalah ibu, ketika ibu tidak ada dirumah yang menjadi pemimpin anaknya. pun begitu juga dalam diri kita sendiri, kita bisa menjadi pemimpin dalam diri sendiri contoh ketika sedang berada jauh dari orang tua kita dihadapkan dengan beberapa tanggung jawab dan keputusan yang harus kita ambil, kita mengatur diri sendiri membuat kebijakan sendiri.
Menurut RICO RICARDO (2014;10) memimpin diri sendiri merupakan dasar untuk menjadi pemimpin besar, kemampuan diri dalam mempimpin diri sendiri itulah awal untuk mampu memimpin orang lain.
 Pemimpin dalam arti luas, pemimpin dalam suatu organisasi  atau birokrasi yang sudah diangkat secara formal oleh suatu organisasi dan kelembagaan. Contoh pemimpin dalam arti luas yaitu; birokrator, administrator public, mereka di tugaskan untuk menjadi the public servant untuk  negara dan masyarakat.

RUMUS KEPEMIMPINAN
                                                          L=F ( L .F .S )
                                                          L=Leadership ( Kepemimpinan )
                                                        F=fungction   ( fungsi )
                                                        L=leader        ( pemimpin )
                                            f= follower       ( anggota )                                      
                                          s= situation   ( situasi )

Dari rumus tersebut dapat kita pahami bahwa pemimpin yang baik adalah atas dasar kepimpinan, anggota, dan situasi.
Leader ; orang memimpin, sedangkan ship adalah patner pemimpin
Fungction ; adalah fungsi pemmpin
Follower   ; pengikut atau anggota
Situasi      ; keadaan atau suasana
Contoh didalam ruangan kelas dosen sedang memberi materi kepada mahasiswa. Yang menjadi pemimpin didalam ruangan kelas tersebut adalah dosen, fungsinya memberi materi dengan harapan mahasiswa memahami dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang materi yang dosen berikan, anggotanya adalah mahasiswa, sedangkan situasinya adalah ada kusri ada papan tulis dan pelbagai alat lain yang dosen gunakan.

Ada tiga teori seseorang dapat menjadi pemimpin;
a.                   Teori genetik
Teori ini mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin karena keturunan.
b.Teori sosial
Teori ini mengatakan menjadi pemimpin karena adanya proses pembelajaran dan keinginan seseorang untuk menjadi pemimpin.
c.Teori ekologi
             teori ekologi atau lingkungan mengatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena ada faktor lingkungan yang baik, pergaulan yang baik, adanya proses ilmu yang ia dapatkan dari liingkungan formal maupun nonformal.
    
Demikianlah yang dapat saya bagikakan, semoga bermanfaat dan dapat kita semua pahami bahwa kita adalah keturunan pemimpin artinya kita sebelum lahir ke dunia ini manusia pertama yang diciptkan oleh TUHAN adam dan hawa adalah pemimpin. Keturunan manusia tidak berdasarkan atas teori darwin yang mengatakan manusia keturunan kera, tapi melainkan kita keturunan adam dan hawa.
Untuk menjadi pemimpin ada baiknya kita memulai dari hal-hal yang kecil menurut saya memimpin diri sendiri merupakan dasar dalam hidup ini untuk mencapai kesegala unsur yang besar, dari memimpin diri sendiri dengan baik merupakan ciri atau kualitas kepribadian seseorang yang mampu memimpin orang banyak. Bagaimana dia bisa menjadi pemimpin didalam masyarakat jika tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Keluarga adalah tahap pertama untuk kita mempraktekkan kepemimpinan yang ada pada diri kita. kesimpulannya adalah “ pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang sukses memimpin dirinya sendiri ”.
Seorang filsuf iran Saadi mengatakan, berikan kata-kata manis kepada orang lain. “ dengan memberikan kata-kata manis dan keramahtamahan kita bisa menuntun gajah dengan sehelai rambut ”.
Creech “ tidak ada kelompok kerja yang jelek yang ada hanya pemimpin yang jelek ”.


Demikian yang dapat saya kutip Dari berbagai sumber.


Terimakasih.                                                                                                                                                                                                                                                   FISIPOL
                                                                                                                        ADM. NEGARA
 Salam
RICO

                                            
 

kepemimpinan


A.    KEPEPIMPINAN BERDASARKAN TEORI PERILAKU

1.     Menurut Teori X dan Y
                      Pemimpin yang didalam proses kepemimpinanya banyak dipengaruhi oeh persepsi dan asumsi tentang organisasi, bawahan, dan lingkungan eksternal. Asumsi dan persepsi ini akan menjadi dasar bagi pemimpin untuk memunculkan reaksi dan perilaku dalam proses kepemimpinannya. Bagaimana dia beradaptasi, bagaimana dia bertindak, dan bagaimana dia berperilaku untuk mengambil keputusan semua dipengaruh oleh asumsi dan persepsinya tentang dunia secara keseluruhan. ( Rost, 1993, Daft, 1999 ).
                      Efek dari teori X dan Y adalah munculnya apa yang dinamakan fenomena ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya ( self fullying prophecy )
Yaitu pemimpin yang membuat pikiran,  beramsusi sebelumnya, berprasanngka atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena pemimpin meramalkannya seakan-akan itu benar.sebenarnya, ramalan tersebut  tidaklah menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Namun ramalan yang berupa asumsi tersebu mempengaruhi perilaku pemimpin yang kemudian mempengaruhi bawahannya  sehingga ramalan prasangka, dan asumsi pemimpin tentang bawahannya justru muncul dan diperketat. Ada empat langkah dasar dalam proses ini, yakni;

a.     Pemimpin membuat asumsi, prediksi, dan merumuskan keyakinan tentang bawahannya yang sebenarnya tidak tepat dan bias, misalnya, pemimpin meramalkan bahwa meramalkan bahwa bawahannya adalah orang yang malas, tidak kreatif, dan kurang berambisi untuk maju.
b.     Pemimpin kemudian menganggap bahwa ramalan, asumsi, atau keyakinannya terhadap itu benar. Misalnya, didepan bawahannya tersebut pemimpin justru banyak memberikan perintah.
c.      Dengan  demikian pemimpin bertindak dengan tidak memberikan kesempatan untuk maju, tidak memberi tugas yang menantang, dan lebih banyak memberikan perintah, akibatnya bawahanya menjadi pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif.
d.     Pemimpin kemudian mengamati  perilaku bawahanya yang pasif, tidak bersemangat, dan kurang kreatif ini dan kemudian menyimpulkan bahwa ramalannya tepat dan benar adanya.
                      Keempat proses diatas menjelaskan mengapa asumsi dan keyakinan  dasar pemimpin bawahanya mepengaruhi pemimin itu sendiri dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku bawahannya. Mc Gregor mengaskan bahwa ada asumsi-asumsi yang diyakini oleh pemimpin tentang manusia yang bersifat dipolar, asumsi ini pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan tindakannya. Kedua jenis asumsi ini dinamakan sebagai teori X dan teori Y  yang masing-masing teori ini menegaskan dua perbedaan keyakinan pemimpin didalam melihat dan menilai manusia ( bawahanya ).

a.     Teori X
                      Asumsi teori X dapat diuraikan atau diringkas sebagai berikut;
1.     Pemimpin memandang bawahannya sebagai orang yang berpendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan berusaha dihindari.
2.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang lebih suka diperintah dan sering kali harus dipaksa untuk melakukan pekerjaan dengn hukuman dan hadiah ( akibat asumsi pertama diatas ).
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang tidak menginginkan serta menghindari tangung jawab.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang harus dikendalikan dengan ketat dan menganggap bawahan tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya didalam organisasi tanpa bantuan pemimpin.
                      Pemimpin yang memegang teori X  ini cenderung menganggap bawahan hanya sebagai hanya sebagai alat prduksi semata, dimotivasi leh hukuman dan hadiah, tidak memiliki keinginan untuk maju, dan menghindari tangung jawab. Akibatnya pemimpin harus mengawasi mereka dengan keras, dan menggunakan ancaman hukuman untuk menakuti bawahan agar mau bekerja. Pemimpin juga tidak memiliki kepercayaan terhadap anak buahnya sehingga pemimpin lebih banyak memberikan perintah, bertindak otoriter, mengiginkan kepatuhan yang tinggi dari bawahan yang menganggap bawahan tidak akan bisa diberikan tanggung jawab.
b.     Teori Y
                      Asumsi teori Y secara ringkas akan disebutkan satu persatu dibawah ini;
1.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang punya pendapat bahwa pekerjaan adalah sesuatu yang menyenangkan dan alamiah seperti beriman.
2.     Pemimipin memandang bawahan sebagai orang yang mempunyai pengendalian diri dan pengawasan diri jika mereka terlibat dalam pekerjaannya.
3.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang memiliki ambisi, ingin maju, dan melaksanakannya secara baik.
4.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang dimotivasi terutama leh kebutttuhan yang lebih tinggi seperti kebutuhan untuk berprestasi, mendapat pengakuan, dan mengtualisasikan dirinya secara maksimal.
5.     Pemimpin memandang bawahan sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah dalam organisasi secara mandiri, bertanggung jawab dan kreaktif sehingga tidak membutuhkan pengawasan yang ketat.
                     
                      Pemimpin yang memegang teori Y akan beranggapan bahwa bawahan merupakan individu yang bisa berkembang secara baik, mempunyai pengendalian diri, dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. Akibatnya, pemimpin lebih banyak memberikan dorongan, kesempatan untuk maju bagi bawahannya, tanggung jawab melalui pendelegasian tugas. Pemimpin mempunyai potensi dan kemampuan  yang besar jika dibimbing dengan baik. Gaya kepemimpinnya lebih demokratis, tidak otoriter.

2.     Menurut Teori Kontinum
                      Penelitian berikutnya dari Tannembaum dan shmidt mengindikasikan bahwa perilaku pemimpin dapat muncul dalam sebuah kontinum yang merekflesikan jumlah yang  berbeda dari partisifasi bawahan. Pusat kontinum berada pada antara boss-centredt, jarak antara boss-centred. Menurut  tergantung pada keadaan situasi organisasi, dan pemimpin menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan situasi organisasi.
Jika waktu  membebani pemimpin dan bawahan terlalu lama untuk belajar mengambil keputusan, maka pemimpin akan cenderung menggunakan gaya autokratis. Sebaliknya jika bawahan mampu mengambil keputusan secara cepat, maka pemimpin cenderung menggunakan gaya partisipatif. Selain itu semakin besar perbedaan kemampuan yang dimilki antara bawahandan pimpinan, maka pemimpin akan semakinbanyak menggunakan gaya autokratis.